♥ DuniaRihma ♥

♥ DuniaRihma ♥
♥ DuniaRihma ♥
Tampilkan postingan dengan label CerpenMisteri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CerpenMisteri. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Januari 2013

Krek, Kre...

Oleh, Isamu Shibuya

Sekolah Dasar itu terletak di atas bukit di pinggir kota. Di belakangnya terdapat sebuah hutan cedar, hasil reboisasi puluhan tahun yang lalu. Pada bulan April, datang seorang guru muda yang baru lulus ke sekolah tersebut. Dia mengajar di kelas III. Sampai pertengahan bulan April dia masih belum hafal nama murid-murid di kelasnya.

Hari itu adalah hari pertamanya giliran jaga. Hujan yang turun sejak pagi, membuat hari benar-benar dingin.
"Dulu, kita harus bermalam di kantor saat mendapat giliran jaga dan melakukan ronda beberapa kali di tengah malam. Tapi sekarang hal itu tak perlu lagi karena sudah ada penjaga khusus,"

Begitu kata guru-guru senior. Sekalipun demikian, mereka tetap harus menunggu sampai penjaga datang pada pukul 8.
"Saya duluan...!"
"Terima kasih!"

Pukul 6 sore, satu persatu guru pulang ke rumah masing-masing. Akhirnya tinggalah guru itu seorang diri. Hari telah gelap waktu dia selesai menyantap mie. Sebelum penjaga datang, dia melakukan ronda sekali lagi. Setelah mencuci aalat makannya di dapur, dia memulai ronda dengan membawa senter.
"Oh, ya pedang kayu."

Dia ingat ada sebuah pedang kayu di sudut loker ruang guru. Dengan membawa pedang kayu itu, dia merasa aman. Dengan pedang kau di tangan kanan dan senter di tangan kiri, dia mengambil napas lalu meninggalkan ruang guru itu.
"Krit,krit,...,"

Bunyi sandalnya terdengar aneh di koridor. Tak dapat dipercaya, sekolah yang pada siang hari sangat ramai, sekarang menjadi sunyi senyap.
Krit... krit...
Krit... krit...

Sedikit demi sedikit cahaya dari ruang guru semakin menjauh. Dingin menusuk sampai ke tulang sumsum. Cahaya lampu senter menerangi langkah kakinya yang gontai. Keringat mulai membasahi tangannya yang menggenggam pedang kayu. Kemudia ia memeriksa satu persatu apakah semua pintu dan jendela sudah terkunci.

Mula-mula ruang guru, kemudian kantin, ruang musik, dan ruang khusus di lantai dua. Sesudah itu ruang kelas I sampai kelas III yang terdapat di lantai III. Cahaya senter menerobos ke koridor dan jendela kaca. Beberapa kali langkahnya terhenti karena merasa sepertinya ada orang sedang berjongkok dan timbul bayangan-bayangan tak terduga.

Di luar, hujan masih belum berhenti. Mungkin tiu sebabnya koridor dan kelas terasa lembab dan bau jamur bercampur bau keringat anak-anak. Ronda terakhir adalah di kelas IV sampai dengan kelas VI.
"Satu lagi...,"

Katanya sambil mengehela napas. Kemudian ia melintasi koridor untuk memeriksa lantai 1 kemudian naik ke lantai 2.
"Krit, krit..."
"Krit, krit..."
terdengar langkah kaki orang. Pak guru jadi tersentak dan memasang telinga.
"Krit, krit..."
"Krit, krit..."
Tak salah lagi, ada orang yang sedang naik tangga.
"..."
Tanpa sadar, dia menelan ludah dan menoleh ke belakang. Diarahkannya senternya ke ujung tangga. Tak ada siapa-siapa. Tetapi, begitu naik ke lantai dua, terdengar langkah kaki mengikuti dari belakang. Tubuhnya menjadi kaku dan tenggorokannya kering. Pak guru mengayunkan pedang kayunya dan sengaja mengeraskan suara langkah kakinya. Sebetulnya ada lima ruang kelas utuk kelas lima, tetapi karena sekarang hanya ada empat kelas maka satu ruangan yang ada di ujung tidak digunakan.

Pak guru memasuki ruang kelas satu persatu, lalu memeriksa jendela dengan hati-hati. begitu sampai di depan kelas yang kosong, pak guru bertanya-tanya
"Apakah ini juga harus kuperiksa?"

Sejenak pak guru merasa bimbang. Seharusnya jendela kelas ini tertutup karena tidak digunakan. Sekalipun demikian, pak guru merasa penasaran, dan...
Kret... kret...

Suara pintu dibuka pak guru. Kemudian pak guru melongok ke dalam kelas. Di bagian  belakang kelas, tampak tumpukan bangku. Bau debu menusuk hidung,
"Ah!"

Tanpa sadar pak guru berteriak lirih. Jendela si bagian depan kelas terbuka.
"Si... siapa ini?" kata pak guru mengomel sambil masuk ke dalam kelas untuk menutup jendela.
Kret... kret... terdengar lagi bunyi derit jendela.
"..."

Jantung pak guru berdetak lebih kencang. Keringat dingin mengucur di punggungnya dan tangannya yang memegang pedang kayu menjadi basah oleh keringat. Saat pak guru mengarahkan lampu senternya ke luar jendela yang gelap, tiba-tiba terdengar bunyi keras dari tumpukan meja kursi si bagian belakang kelas.
"Brak!"
"Si... siapa!?"

Tanpa berpikir lagi pak guru melompat dan mengalihkan arah lampu senternya. Seekor kucing hitam melintas di bawah kaki pak guru. Lutut pak guru jadi bergetar. Dengan menahan napas, pak guru berlari ke arah jendela dan mengunci jendela dengan tangan gemetar.
"Krek, krek,..."

Kembali terdengar bunyi derit pintu. Entah karena tipuan angin, entah karena sebab yang lain, bunyi itu terdengar membesar dan mengecil.
"...!"

Tenggorokan pak guru tersekat.
"Huwaaa...!"

Tiba-tiba kepala pak guru terasa kosong lalu beliau jatuh pingsan di tempat itu. Saat tersadar, pak guru sudah berada di rumah sakit. Seorang guru senior yang datang menjenguknya berkata,
"Jadi, betul dia muncul!?"
"Kalau tak salah, di tempat sekolah ini dibangun, dulunya adalah sebuah kuil. Di dekat hutan cedar ini adalah kuburan.... Bahkan sampai sekarang batu-batu nisannya masih ada. Di pintu masuk kuburan, ada sumur tua dengan kerekan. Orang-orang yang berziarah sering mengambil air untuk membasahi batu nisan. Dan nisan yang ada di sini adalah nisan orang-orang yang tak punya sanak saudara dan sudah berumur ratusan tahun. Entah siapa yang usil, pada malam harim saat turun rintik-rintik, terdengar suara kerekan dari sumur tua itu."

Hihhhhh.....

Sambil tertawa pak guru yang sudah hampir pensiun itu menambahkan,
"Tapi, baru Bapak yang pernah bertemu dengan hantu itu"

Katanya sambil menepuk bahu pak guru, kemudian beliau beranjak ke luar.

Berita Kematian

Oleh, Shinzaburo Mochizuki

Sekarang para guru tidak perlu lagi melakukan jaga malam karena sekolah telah menggaji petugas khusus untuk menanganinya. Sekarang saya akan menceritakan pengalaman mengerikan yang saya alami pada musim semi tahun 1971.

Saya mengajar matematika di SMU 4 dan menjadi wali kelas kelas III B. Tahun ajaran baru sudah dimulai, salju sudah mencair dan bunga aprikot mulai bermekaran. Pada pukul 5 sore saya melakukan ronda. Seperti biasa, saya melakukan ronda dari ruang tata usaha menuju ke kelas-kelas melalui koridor.

Tapat dari tengah koridor, terlihat kelas III B. Tanpa sengaja saya menoleh ke arah kelas tersebut. Aneh sekali, terlihat ada seseorang di dalam kelas, padahal seharusnya 'kan semua murid sudah pulang. Saya perhatikan lagi, tapi memang benar terlihat ada seorang anak duduk di dalam kelas. Duduknya tenang seperti boneka, dan kelihatannya dia sedang menunggu sesuatu.

Saya mendekati jendela kemudia melongok ke dalam,
"Lho, Reiko?!"

Kalau dilihat dari kursi yang didudukinya, dia adalah Reiko Ishii. Mungkin dia sedang beristirahat, tapi sekalipun demikian saya tetap harus menyuruhnya pulang. Saya pergi ke bagian belakang kelas dan mendorong pintu kuat-kuat. Aneh, pintu tetap tidak bergerak sedikit pun padahal pintu ini 'kan tidak dikunci. Karena itu saya kemudian menuju ke pintu depan. Ternyata sama saja, pintu depan juga tidak bisa dibuka. Tak ada jalan lain, karena itu saya lalu mengetuk jendela kaca dan berteriak,
"Hei, Reiko!"

Sama sekali tak ada jawaban dari Reiko. Kelas sunyi sepi. Saya yang biasanya pemberani, merasa agak lemas juga. Tapi saya tidak mempedulikannya. Pintu saya dobrak sekali lagi. Sekarang pintu benar-benar terbuka. Begitu masuk ke dalam kelas, saya menjadi sangat terkejut. Murid yang tadi saya lihat duduk di dalam kelas sudah tidak ada. Tak mungkin dia keluar dari pintu depan. Mungkinkah dia lenyap begitu saja?

Keesokan Paginya, datang berita dari keluarga Reiko, Isinya
"Tadi malam, Reiko ditemukan tewas tenggelam di danau Alcan, Hokkaido."

Waktu kematian Reiko tepat ketika saya sedang melakukan ronda. Jadi Reiko datang untuk berpamitan dengan saya. Saya jadi teringat ketika bulan Maret. Saat itu salju turun sejak siang. Ketika keluar dari gerbang, saya melihat seorang murid perempuan berjalan tanpa memakai payung. Saya mempercepat langkah dan menawarkan bantuan kepadanya.
"Ayo, kita sama-sama"

Ternyata dia adalah Reiko Ishii. Wajahnya kelihatan pucat, tak bersemangat dan sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu. Itulah yang saya rasakan sebagai seorang guru. Kemudian saya berkata padanya,
"Kalau kamu punya masalah, katakan saja. Seperti matematika, kita akan mendapatkan hasilnya setelah menambah dan mengurangi."

Dia hanya membungkuk dan masuk ke rumah sambil tersenyum kecut. Tak lama kemudian, Reiko menelpon saya. Karena belum sampai ke rumah, telepon diterima oleh istri saya. Saya jadi khawatir karena keesokan harinya, Reiko tidak masuk sekolah. Bahkan katanya Reiko kabur dari rumah. Ah, pasti ada sesuatu yang ingin Reiko bicarakan dengan saya
"Reiko, mengapa kamu pergi begitu cepat?"

Sampai sekarang saya masih memikirkan hal itu.

Senin, 31 Desember 2012

Srup, srup... glek, glek...

Oleh, Nobou Sakurai

Ini sudah lama terjadi. Waktu itu saya belum lama menjadi guru SMP. sekalipun suda ada pesuruh di sekolah, tetapi guru-guru tetap dapat giliran jaga malam supaya sekolah tidak kemasukan pencuri. Karena masih bujangan, saya sering dimintai tolong oleh guru-guru yang telah berkeluarga. Saya selalu menerimanya dengan senang hati, karena sebagai gantinya saya menerima imbalan uang. Jadi saya anggap saja ini sebagai kerja sambilan. Lagipula, selama ini tidak pernah terjadi hal-hal yang aneh.

Sampai terjadi hal berikut.

Gedung sekolah dan ruang pesuruh serta ruang jaga malam dihubungkan oleh sebuah koridor. setelah makan malam di ruang jaga, saya bermaksud melakukan ronda yang pertama pada pukul 7. Sekolah ini adalah bangunan kayu bertingkat huruf L dengan tangga di kedua ujungnya serta di tengah. Dengan dibatasi tangga di tengah, gedung ini terbagi menjadi sayap timur dan sayap barat. Koridor dari ruang jaga berhubungan dengan pintu naik-turun di bawah tangga tengah. Setelah memeriksa kunci pintunya, saya berjalan sampai ke ujung tingkat 1 sayap barat lalu memeriksa kunci pintunya kemudian naik ke tingkat 2. Setelah itu berjalan sampai ke ujung timur, turun melalui tangga, memeriksa pintu tingkat 1, lalu kembali ke bagian tengah. Begitulah urutan yang biasa saya lakukan. Dengan cahaya lampu senterm saya berjalan memeriksa jendela koridor, kelas-kelas, dan lain-lainnya. Karena terbuar adari kayu, bunyi derit kayu terdengar dengan jelas.

Tidak terjadi apa-apa. Saya kembali ke runag jaga, dan menghabiskan waktu dengan memeriksa pekerjaan rumah yang telah dikumpulkan murid-murid. Pukul 11 lewat, saya melakukan ronda yang kedua. Ketika tiba di bagian tengah tingkat 2, saya memandang ke arah koridor sayap timur.

"Hah?" gumam saya tanpa sadar. Di dekat ujung koridor tampak nyala api. Saya perhatikan lagi, memang benar, ada sesuatu yang terbakar.
"Kebakaran!"
Dengan cepat saya mengambil alat pemadam kebakaran yang ada di dekat situ dan berlari kencang di sepanjang koridor. Akan tetapi, tidak ada apa-apa di tempat itu. Demikian juga di ujung tangga dan di ujung kelas. Sama sekali tak ada tanda-tanda ada yang terbakar.

Saya bermaksud mengembalikan alat pemadam kebakaran itu. Sampai di bagian tengah, tanpa sengaja saya melihat ke koridor sayap barat. Di ujung koridor ada nyala api kecil seperti api rokok. Dengan membawa alat pemadam kebarakan saya berlari mendekatinya, namun ternyata tak ada apa-apa di sana. Yang ada hanya kesunyian belaka. Tubuh saya gemetar. Jantung berdetak kencang. Hawa dingin menusuk hingga ke tulang sumsum. Setelah mengembalikan alat pemadam kebakaran ke tempat semula, saya lalu menyelesaikan ronda.

Lampu milik penjaga yang terletak di depan ruang jaga telah padam. Agaknya penjaga sekolah bermaksud tidur sambil menunggu saya. Dan saya tidak ingin membangunkannya untuk menceritakan apa yang baru saja saya lihat. Saya kembali ke ruang jaga dan kemudian melamun dengan lampu tetap menyala. Saya tersadar saat jam weker berbunyi pada waktu 2.30 tengah malam, waktunya untuk ronda yang ketiga.

Dengan menghimpun segenap keberanian, saya lakukan ronda seperti urutan biasanya. Tak terjadi apa-apa. Dengan perasaan lega, saya menyusuri koridor terakhir dan tiba di depan ruang penjaga. Sekalipun lampunya telah padam, namun masih terdengar bunyi dari dalam. Tanpa sadar, langkah saya jadi terhenti.

"Cap,cap...," begitu kedengarannya.
"Cap,cap"
Suaranya seperti bungi anjing sedang minum, atau bunyi lidah orang yang sedang asyik minum sesuatu. Sambil menahan nafas napas, saya memasang telinga.
"Srup, srup.., glek..., glek..."
Tak salah lagi itu adalah bunyi mulut yang penuh diiringi dengan dengusan napas. Apa yang dimakan penjaga sekolah di tengah malam begini, sampai menimbulkan bunyi seperti itu?
Pelan-pelan, saya memanggilnya,

"Pak, pak!" Bunyi itu berhenti, namun tak ada jawaban sama sekali.
Hm, mungkin bapak itu sedang menikmati makanan yang sangat disukainya dan tak ingin ada orang yang mengetahuinya. Sudahlah, biarkan saja. Begitu pikir saya, lalu meninggalkan tempat itu. Tetapi, bunyi itu mulai terdengar lagi.

"Cap,cap,cap...." kemudian,
"Srup,srup...glek,glek...."
Saya mulai berpikir yang tidak-tidak. Jangan-jangan, ada makhluk aneh yang sedang memangsanya. Saya bergegas kembali ke ruang jaga dengan pertanyaan, bagaimana jika makhluk aneh itu benar-benar ada? Ah, Tidak! itu hanya omong kosong belaka. Begitu pikir saya, tanpa terpejam sedikitpun hingga fajar menjelang. Setelah hari benar-benar terang, baru saya keluar dari ruang jaga. Pintu ruang penjaga terbuka, namun tak tampak siapa-siapa di dalamnya. Saya mengintip untuk memastikan apakah ada bercak-bercak darah di lantai. Ternyata semuanya dalam keadaan biasa.

Saya pergi ke samping toilet untuk mencuci muka saya yang lelah. Tampak bapak penjaga sedang menggosok gigi membelakangi saya. Tanpa mengucapkan selamat pagi, saya langsung bertanya,

"apakah tadi malam Bapak tidur nyenyak, atau...?"
Dia menoleh, berkumur dan menatap lurus ke arah saya. Saya bertanya lagi,
"Apakah Bapak makan sesuatu, kira-kira jam 3 tadi malam?"
"... tidak. Ehm, jadi, Pak Guru juga mendengar bunyi itu..?!"
"maksud bapak... bunyi cap cap, srup srup, glek-glek itu?"
"Ya betul. Tadi malam saya mendengarnya dari balik selimut."
"Sungguh? Waktu saya memanggil-manggil Bapak dari depan ruangan, tapi..."
"Oh, saya tak mendengarnya," katanya sambil menggelengkan kepala.
"Kalau bukan bapak, lalu bunyi apa itu, pak?"
Dengan tenang dia bercerita,
"Seorang penjaga yang bekerja jauh sebelum saya bekerja, mati mendadak di sudut kamar penjaga. Mungkin karena terlalu banyak memakan buah tomat... atau mungkin dia sedang sakit dan meninggal ketika sedang makan tomat. Saat itu bahan makanan sulit ditemukan, karena habis perang. Mungkin tomat adalah sesuatu yang sangat didambakannya, karena itu ekspresi wajahnya berubah jika melihat tomat. Mungkin karena itulah ditengah malam terdengar bunyi orang yang sedang makan tomat dengan asyiknya."
"Sekarang sedang musim tomat, kan?!"

Saya tak begitu memikirkan kematian mendadak penjaga itu, tapi lebih memikirkan tentang bola api, bunyi kecapan yang aneh, dan arwah gentayangan di sekolah ini.

Hantu Ibu Guru

Oleh, Hiroshi Nakamura

Liburan musim semi telah usai. Tahun ajaran baru pun tiba. Dinding luar, dinding koridor, dan dinding-dinding kelas, semua telah dicat kembali.

"Wah, dindingnya bagus, seperti baru, Asyik!!"
"Ya, gurunya juga baru," kata anak-anak.

Tak lama kemudian, musim hujan pun tiba. Cuaca mendung berlangsung dari hari ke hari.

"Bu Guru, dinding di sebelah sana jadi hitam."
"Benar juga. Jamur barangkali. Besok akan saya coba membersihkannya dengan deterjen."

Keesokan harinya, ibu guru mencoba membersihkan bagian yang hitam itu. Namuk, sekalipun sudah dibersihkan, kotoran itu tidak hilang juga. Sebaliknya, bercak itu semakin lama semakin lebar.

"Aduh, kotor sekali! Ibu akan minta supaya dindingnya dicat ulang!"

Ibu guru kemudian pergi menemui kepala sekolah. Kepala sekolah, yang biasanya sulit meluluskan permintaan itu, langsung menyetujuinya dan memerintahkan pesuruh sekolah untuk mencat kembali dinding itu.
Anak-anak menyadari hal itu setelah tiba di sekolah keesokan harinya.

"Eh, sudah dicat lagi!"
"Iya, jadi seperti baru."
"Jangan dipegang dulu soalnya belum kering, supaya tidak kotor lagi."

Semester kedua dimulai pada bulan September, tiga bulan kemudian. dan pada suatu pagi, saat turun hujan lebat,
"Gawat,gawat,gawat!" anak-anak berhamburan ke dalam ruang guru
"waktu masuk ke kelas tadi pagi, saya lihat ada bercak hitam di tempat yang samaa."
"mirip bayangan orang"
"mirip bayangan seorang perempuan yang berdarah bu!"

Para guru, termasuk kepala sekolah, yang mendengarnya, segera mendatangi kelas itu. Begitu melihatnya, mereka terperanjat dan
"hiiiyy!!" mereka berteriak seperti murid yang lain.

Pesuruh sekolah segera mengambil cat dan segera mencat kembali. Dinding kelas kembali menjadi bersih. Namun, apa sebenarnya bercak hitam itu? dan beginilah ceritan dari bapak pesuruh sekolah, yang telah lama tinggal di sekolah itu.

"Ini terjadi lebih dari 30 tahun yang lalu. ketika itu ada seorang guru wanita yang masih muda. Gedung sekolah masih terbuat dari kayu, bukan tembok seperti sekarang. Ruang kelasnya tepat di samping tembok yang baru saya cat ini, dan di sampingnya lagi adalah runag praktikum IPA.

Dia seorang guru yang sangat tekun. Sampai tengah malam pun dia masih berada di kelas unutk mengejakan sesuatu atau menyiapkan bahan-bahan untuk pelajaran keesokan harinya.

Malam itu pun, seperti biasanya, lampu kelasnya masih menyala. Malam itu ada seorang guru yang bertugas jaga malam. Karena sudah malam, guru itu berkata,
"Bu, nanti kehabisan kereta lho!", namun ketika membuka pintu, dia sangat terkejut dan segera memanggil saya. Waktu tiba di kelas, saya melihat darah berceceran dan ibu guru terkapar di lantai.

Bu guru memang sedang sakit. Beliau munah darah dan berusaha mencari pertolongan dengan berjalan sambil memegangi dinding, sehingga darahnya menempel di situ. Tak lama setelah masuk rumah sakit, dia meninggal. Kelas itu dibersihkan dan tak pernah digunakan lagi. Karena peristiwa itu, bangunan yang lama cepat dirobohkan lalu didirikan bangunan beton seperti sekarang ini.

Saya tidak merasa bahwa bercak hitam itu menyerupai....

Kamis, 07 April 2011

Festival Tanabata

Oleh, Shoko Mochizuki

                Miyuki yang ingin menjadi murid sekolah musik bersahabat akrab dengan Taeko yang dikenalnya saat ujian masuk perguruan tinggi. Keduanya tampak ceria mengelilingi kampus. Sekolah ini terletak di sebuah bukit kecil yang diselimuti oleh hijaunya hutan dan rerumputan.

                Di antara pepohonan terdapat sebuah gedung sekolah modern bertegel, aula, asrama siswa, dan sebagainya. Dan seperti sekolah musik pada umumnya, di sana-sini terdapat patung Bach, Mozart, dan yang lainnya.

                “Keren…! Bagaikan di taman saja!”
                “Benar, kebun cemara ini, seperti di film asing.”
                Namun, ada yang agak anek. Pada lingkungan bersuasana barat itu ada lentera-lentera batu.
                “Eh, itu salah nggak sih?”
                “Iya, memang aneh. Di sampan Bach ada lentera batu…”
                “pati ada sebabnya.”
                Tak lama kemudian, dari cerita para senior, mereka tahu penyebabnya.
                Begini ceritanya.

                Ketika perang Pasifik hampir berakhir, serangan udara tentara Amerika terjadi di daratan Jepang, terutama kota besar seperti Tokyo, yang tiap hari dijatuhi bom sehingga banyak yang meninggal.
                Karenanya, anak-anak SD yang sudah besar, dipindahkan ke balai rakyat atau kuil desa, hidup terpisah dengan keluarga, untuk menghindari serangan udara. Mereka disebut kelompok Evakuasi.
                Di sekitar sini yang dekat dengan Tokyo pun banyak anak-anak dari kelompok evakuasi. Walaupun begitu, tempat yang seharusnya terhindar dari serangan udara ini yang dijatuhi bom.
                Hidup dalam kesepian membuat mereka dekat satu sama lain. Bahkan ada yang tewas dalam keadaan saling berpelukan. Dengan sekali serangan saja, banyak orang dewasa yang tewas. Ada juga anak-anak yang menjadi mayat tanpa diketahui identitasnya.
                Karena itu, ketika ibu mereka datang untuk mencari anaknya yang sudah meninggal, di antara mereka ada yang tak tahu yang mana anaknya. Selain itu banyak anak-anak yang jadi sebatang kara karena seluruh keluarganya tewas.
                Di antara anak-anak yang tewas itu, ada juga anak yang tak di ambil oleh keluarganya karena seluruh keluarganya pun telah tewas akibat serangan udara di Tokyo.
                Setelah lama berlalu, didirikan sekolah di bekas tempat tewasnya anak-anak itu. Ketika tanahnya digali, ditemukan kerangka-kerangka mereka.
                Karena itulah maka dipasang lentera dan dibacakan doa di tempat-tempat kerangka itu ditemukan.

                “Tapi, sekarang pun, kalau tengah malam ketika kita ke kamar mandi asrama, ada anak yang berlumuran darah di situ.”
                “Saat itu, semuanya kurus karena tak ada makanan. Bukan hanya karena serangan udara, banyak juga yang meninggal karena sakit.”
                “Kasihan sekali mereka…”
                Kadang-kadang, Miyuki dan yang lainnya merasa pilu melihat lentera-lentera itu.

                Kemudian, tibalah saat perayaan Festival Tanabata.
                Hari itu, di kebun belakang gedung utama berderet warung-warung yang dibuka oleh para siwa. Orang-orang yang tinggal di kota juga berdatangan.
                Saat orchestra dan paduan suara diperdengarkan, tampak makin banyak sosok anak-anak yang bertempat tinggal di dekat situ.
                Ketika senja mulai tiba, suara penjual memanggil pembeli terdengar makin kuat.
                Miyuki yang bertugas menjual es permen seharga 50 yen per batang di bawah pohon cemara.

                Namun, saat tarian bon odori , tarian yang dilakukan saat festival musim panas, akan dimulai, dia sudah merasa lelah karena tak biasa mengenakan Yukata , kimono musim panas, dan geta ,sandal khas Jepang mirip bakiak.
                “Menarinya nanti saja. Aku mau istirahat dulu.” Miyuki duduk di kursi dan melepas geta nya.
                “Aku juga mau istirahat”, kata Taeko yang menjual topeng.
                Miyuki, yang memainkan geta-nya mengikuti bon odori, tiba-tiba menoleh ke belakang karena merasa ada orang di belakangnya.
                Seorang anak perempuan kira-kira kelas 3 SD tampak sedang memperhatikan kotak esnya.
                “Eh, mau ini ya? Satu 50 yen!” kata Miyuki. Tetapi anak itu malah lari menjauh.
                “Anak tadi aneh, ya!” bisik Taeko.
                “Iya, ya!”
                Mereka mendatangi arah larinya anak itu. Di sana-sini tampak anak-anak dengan potongan rambut yang sama.
                “Eh, lihat! Semuanya pakai celana dan rok yang agak lain. Geta-nya juga lusuh. kamu merasa aneh nggak, sih?”
                “Iya, ada banyak anak-anak, tapi mereka saja yang kurus. Kelihatan ada yang berbeda. Mereka datang dari mana, ya?”
                “Di sana juga ada. Eh, anak laki-laki…?”
                “Betul. Ah, anak itu, terluka!”
                Jika diperhatikan, samar-samar tampak beberapa orang anak di sekeliling lentera batu.
                “Heh, di sana juga!”
                Anak-anak di hutan, yang mereka temukan itu, tiba-tiba lenyap dari pandangan.
                “Lho, anak-anak itu…?”
                Anak-anak di lapangan, yang tampak aneh tadi, juga menghilang.
                “Anak-anak itu…”
                “Yang tewas karena serangan udara..!!”
                Mereka berdua hanya mampu berdiri terpaku.

Sumur Tua

Oleh, Masao kogure
                Cerita ini terjadi di sekolah dasar K di provinsi Saitama terletak kira-kira 40 menit perjalan kereta dari Tokyo.
                Peristiwa serupa terjadi di tempat-tempat yang letaknya 30-40 menit dari pusat kota. Begitu juga di kota S, yang dalam beberapa tahun belakangan ini penduduknya terus bertambah. Penduduk yang semula berkisar 70.000 jiwa, sekarang membengkak menjadi 130.000 jiwa.

                Seiring dengan pesatnya pertambahan penduduk, timbul masalah di sana-sini. Salah satunya adalah kekurangan kelas di SD dan SMP.
                Di SD K di kota S pun dibangun gedung baru di samping gedung yang lama.
                Pembangunannya diserahkan kepada Kontraktor U yang sudah punya nama, tetapi entah mengapa, secara beruntun banyak yang mendapat luka. Ada pekerja yang jatuh dari tangga, ada yang jarinya hancur terjepit mesin, ada yang nyaris buta karena matanya terkena ujung pahat yang terjatuh, ada yang tersangkut kabel pengangkut beton, dan berbagai kecelakaan terjadi secara terus-menerus.

                Karena banyaknya kecelakaan yang terjadi dalam waktu singkat, pemborong diberi peringatan oleh dinas pengawasan kota sekalipun mereka telah mengikuti asuransi tenaga kerja. Namun tak dapat dibiarkan begitu saja, karena hal ini sangat berhubungan dengan kepercayaan kerja.

                “Walau hanya penambahan kelas, untuk memulai pembangunan, diadakan upacara pembersihan tanah. Tetapi, ini sepertinya ada kutukan….”
                Pimpinan Kontraktor merasa bahwa ada penyebab bencana di lokasi itu. Kepada para pekerja dia bertanya apakah ada di antara mereka yang lulusan sekolah itu. Jika ada, apakah orang itu ingat sesuatu yang dapat dianggap sebagai penyebab bencana.
                Pak Kudo, seorang pekerja berusia 50-an yang bertugas memasang kusen dan kaca, kemudian bercerita,

                “Kalaupun sekarang ini ada kutukan, pastilah yang itu. Saya lulusan tahun 1954. Sesaat sebelum upacara kelulusan, gedung sekolah musnah dilalap api yang berasal dari ruang makan, tepat saat bertiupnya angin kencang.”
                “Yang Bapak maksud?”
                “Yang saya ingat, hanya itu. Belakangan ada macam-macam cerita, tapi yang pasti, wakil kepala sekolah memang meninggal.”
                “Malam itu, untuk menahan dingin, guru yang bertugas jaga malam terus berada di ruang jaga. Akibatnya, dia terlambat menyadari terjadinya kebakaran.”
                “Guru itu berhasil menyelamatkan diri dan hanya menderita luka bakar ringan. Yang disesalkan adalah wakil kepala sekolah. Rumahnya kira-kira 1 km dari sekolah, beliau segera datang dengan bersepeda tanpa mengganti piyamanya. Tapi sekolah sudah jadi lautan api. Sekalipun begitu, beliau tetap bermaksud terjun ke dalam kobaran api untuk menyelamatkan berkas-berkas di ruang kepala sekolah. Namun beliau ditahan oleh petugas pemadam kebakaran. Walaupun begitu, beliau berputar ke halaman sekolah, melompat pagar, dan berlari masuk ke gedung barat yang terbakar. Ada yang melihatnya, tapi itu saja.”

                “Paginya, diketahui bahwa wakil kepala sekolah tidak ada. Orang-orang memperkirakan  bahwa beliau tewas tertelan api. Pada malam terjadinya kebakaran, kepala sekolah sedang bertugas di provinsi lain. Jadi pada hari itu, wakilnyalah yang bertanggung jawab penuh. Beliau memang orang yang bertanggung jawab penuh.”
                “Nah, beberapa hari setelah kejadian itu, pada suatu malam kepal sekolah bermimpi. Dalam mimpinya, arwah wakil kepala sekolah datang untuk meminta maaf. Datang dengan piyamanya, piyama yang basah kuyub yang masih menetes-netes. Kepala sekolah segera terbangun. Beliau tak menganggap bahwa ini hanya mimpi, dan terus memikirkan piyama yang basah itu.”
                “Begitu pagi tiba, beliau segera datang ke tempat kebakaran dan melongok ke dalam sumur tua yang ada di tepi gedung barat. Benar saja! Mungkin bunuh diri karena rasa tanggung jawab.”
                “Setelah itu, sumur ditutup, dan orang pun sudah melupakan peristiwa kebakaran dan kematian wakil kepala sekolah. Lokasi pembangunan sekarang adalah tempat sumur itu dulu. Mungkin kutukan itu….”
                “Bukankah sejak dulu sumur dianggap sebagai penghubung antara dunia kita dan dunia sana…? Waktu sumur itu ditimbun dan dijadikan sebagai bagian dari halaman sekolah, arwahnya masih bisa bersabar. Tapi jika di atasnya  dibangun segung sekolah baru, dia tak bisa terima. Mungkin karena itulah, terjadi berbagai bencana. Saya piker, paling tidak kita harus memanggil pendeta untuk melaksanakan upacara berkabung bagi arwahnya.”
                “Tak pernah terpikir sampai ke situ.”

                Pemimpin Kontraktor segera melaksanakan pembacaan doa di bekas sumur tua sesuai anjuran Pak Kudo. Mungkin arwah wakil kepala sekolah merasa terhibur, sehingga setelah itu pembangunan dapat berjalan dengan lancar.

Rumah Kucing


Oleh, Hiroshi Nakamura

                Waktu siang, suasana di sekolah hiruk pikuk, penuh dengan teriakan anak-anak, bunyi alat musik dan lagu dari ruang musik, dan hiruk pikuk di lapangan olahraga dan sebagainya.
                Sebaliknya, bila anak-anak sudah pulang, sekolah mendadak menjadi sepi, dan bila malam tiba, tak ada bunyi apapun di gedung yang besar itu. Pernahkah kalian di sekolah pada saat seperti itu? Cukup menakutkan. Ada bunyi sedikit saja, bulu kuduk langsung merinding. Kita akan berpikir, apakah itu pencuri?

                Jika kita membaca Koran-koran zaman dahulu, ada berita yang memuat cerita tentang keberanian guru yang sedang jaga malam menangkap pencuri yang menyusup ke sekolah. Sekolah sekarang tidak begitu lagi. Sekarang, guru tak perlu lagi bermalam di sekolah, kalau pun ada, kepala sekolah akan berpesan,
                “Kalau terjadi sesuatu, lari saja! Nyawa lebih penting. Lagipula, pencuri-pencuri sekarang lebih jahat….”

                Dulu, sekolah adalah bangunan kayu tua. Jadi, kalau ada angin, kertas-kertas di atas meja di ruang guru akan bertebaran. Dan bila malam tiba, tikus-tikus mengerat di atas loteng, menimbulkan bunyi-bunyi yang tak terdengar pada siang hari.

                Nah, di sudut halaman sekolah ini, ada pohon keyaki dan pohon kusunoki besar yang tumbuh entah sejak kapan. Di sekitar situ, siang hari pun tampak suram. Di sebelah barat ada pohon sugu Himalaya yang tinggi, dan di sekeliling halaman ada pohon-pohon kecil yang ditanam oleh lulusan sekolah ini.
                Pada tahun 1940 terjadi peristiwa aneh di ruang jaga yang terletak di bawah kerimbunan pohon keyaki ini.

                Saat itu saya bermalam di sekolah karena mendapat tugas jaga.
                Tengah malam, suara-suara yang tak terdengar pada siang hari, seperti perkutut, akan terdengar di ruang jaga yang sepi. Saya terbangun mendengar suara yang memilukan itu dan tak dapat memejamkan mata kembali. Juga terdengar bunyi kepakan sayap. Mungkin ada burung gagak yang membuat sarang di atas pohon sugi.

                Lalu, entah darimana asalnya, terdengar suara kucing mengeong-ngeong. Saya berpikir, apakah ada kucing-kucing buangan di sekitar sekolah ini?  Suara itu bukan hanya berasal dari satu atau dua ekor kucing, dan makin lama terdengar makin bertambah, “meong, meong…, meong…,meong…”

                Karena sangat ribut, saya ingin mengusirnya. Dengan sekuat tenaga, saya siramkan seember air dari jendela ruang jaga kea rah datang nya suara itu. Tenang sejenak, lalu terdengar lagi suara yang lebih gaduh daripada sebelumnya.

                Tiba-tiba, saya jadi takut mendengar suara-suara itu. Jika saya berbuat lebih jauh lagi, jangan-jangan mereka pun akan melakukan sesuatu terhadap saya. Karenanya, saya menarik selimut dan diam tak bergeming.

                Paginya, saya lihat tempat yang saya siram semalam. Ada sebuah batu nisan tua di balik pohon keyaki besar yang berbatasan dengan sekolah Putri di sebelah. Di situ tertulis, “Bukit Kucing”.

                Ketika saya ceritakan hal ini di ruang guru, seorang guru yang telah lama mengajar di sekolah ini bercerita kepada saya.
                “Dulu, di sini ada sebuah rumah tuan tanah. Di rumah itu ada seekor kucing yang sangat disayangi oleh putri tuan tanah. Kucing itu menjadi besar, dan memangsa setiap orang yang mengganggu tuan putri, bagaikan kucing jadi-jadian. Akhirnya kucing itu dibunuh dan tempatnya dikubur disebut “Bukit Kucing”. Ketika sekolah ini dibangun, Bukit Kucing itu hampir dipindahkan, tetapi karena ada kutukan yang menyebabkan pekerja menjadi sakit atau luka, Bukit kucing itu dibiarkan begitu saja. Tengah malam, kucing-kucing dari sekitar sekolah ini berkumpul mengelilinginya, bukan?”

                Cepat-cepat saya pergi ke Bukit Kucing dan mengatupkan kedua tangan saya. Di sekeliling batu nisan tua di bawah pohon besar yang sangat lebat tampak begitu banyak jejak telapak
kaki kucing.

Kembalikan!


Oleh, Shinzaburo Mochizuki

                Tempat olahraga di sekolah ku menghadap kearah utara dan menikung lebar berbentuk busur. Dulu disini ada sungai yang bernama sungai Tenbin, dan lapangan ini pun dibuat mengikuti alirannya. Menurut cerita orang tua yang telah lama tinggal disin, dulu aliran sungai ini sangat cepat. Jika Banjir, jembatannya terbawa arus. Karenanya, ada juga orang yang menyebutnya sungan Tenbin sebagai sungai tanpa jembatan.

                Di perbatasan sungai Tenbin dan lapangan olahraga terdapat sebuah kuil kecil. Pada suatu hari hujan, guru olahraga, Pak Okawa bercerita kepada kami.
                “Hari ini, cerita seram, ya! Dulu, beberapa waktu setelah dibangunnya sekolah ini, kira-kira 70 tahun yang lalu, pada saat pembuatan lapangan olahraga, 2 orang pekerja menemukan sebuah kuil kecil.”
                “Kuil kecil, yang ada di halaman sekolah?”
                “Betul, kuil kecil itu. Mereka menggali kuil itu dan menggulingkannya ke tepi sungai.”
                Penanggung jawab pembangunan itu, Pak M, malam harinya, ketika sedang tidur di rumahnya, dadanya terasa sangat sesak . Dia mengigau lalu terbangun. Dia tak bisa tidur lagi, dan ketika menoleh ke sudut kamar, dia sangat terkejut. Seorang nenek dengan rambut putih terjuntai, duduk di situ dengan mata penuh kebencian. Keringat dingin mengalir di sekujur tubuh pak M, yang gemetar. Tentu saja, suaranya pun tak bisa keluar. Kemudian, dengan suara parau nenek itu, berkata,

                “Aku, digulingkan ke tepi sungai Tenbin. Cepat, kembalikan aku ke tempat semula! Kembalikan aku ke tempat semula!”
                “Pak M. tak ingin mengingat lagi mata yang penuh kebencian dan suara yang mengerikan itu. Namun, ia tak bisa tidur sekejap pun. Begitu fajar menjelang, tanpa makan terlebih dahulu, dia bergegas ke tempat pembangunan sekolah yang masij tertutup kabut.”
                “Tempat pembangunan lapangan olahraga?”
                “Ya, di tepinya. Di sungai Tenbin terguling sebuah kuil kecil.”
                “Oh, jadi yang diminta dikembalikan ke tempat semula adalah kuil itu?”
                “Ya, betul. Tetapi, dimana tempatnya semula? Pada apel pagi, Pak M menanyakan siapa yang menggali kuil itu. Namu tak ada jawaban. Lalu, ditanyanya lebih jauh lagi. Ternyata, 2 orang yang mengerjakan lapangan olahraga. Hari itu tidak hadir. Mereka adalah pegawai teladan yang tak pernah absen sehari pun. Pak M sangat khawatir.”

                “Dia sangat terkejut ketika mampir ke pondokan mereka saat istirahat siang. Muka mereka sangat merah, kepala terkulai di atas bantal air, dahi dikompres dengan es, dan terdengar suara mengaduh. Kemarin mereka tiba-tiba terserang demam tinggi dan tak bisa bangun.”
                “Dari kedua orang yang sulit berbicara ini, akhirnya Pak M mengetahui di mana temoat asal kuil kecil itu. Kemudian, dikembalikannya, dan dipanggilnya pendeta untuk melakukan penyucian. Ajaib, panas mereka langsung turun.”
                “Belakangan diketahui bahwa kepala sekolah pun juga melihat sosok nenek itu dalam mimpi buruknya.”

                “Nah, tentang kuil ini, dulu jembatan sungai Tenbin selalu hanyut, sampai-sampai disebut sebagai sungai tanpa jembatan. Agar tak hanyut lagi, diperlukan tiang manusia. Kalian tahu ‘kan apa itu tiang manusia? Manusia yang dikubur hidup-hidup saat pembuatan jembatan. Mereka percaya, dengan begitu jembatan akan kuat.”
                “Uh, sadis!”
                “Ya, betul. Nenek itu dipilih sebagai tiang manusia. Nenek yang tak punya sanak saudara, yang sering hidup di bawah jembatan. Kuil kecil itu, dibuat untuk arwah nenek yang dijadikan tiang manusia itu.”

                Dengan tenang, kami menatap kuil kecil di sudut halaman sekolah yang disiram hujan.

Tempat Terkutuk


Oleh, Isamu Shibuya

                Di suatu daerah di Tokyo, kira-kira 15-16 tahun yang lalu di bangun sebuah SD di tengah rumpun pepohonan hijau. Di bagian selatan halaman sekolah ini terdapat sebuah rumah besar beratap jerami yang sudah miring.

                Saat mendengar adanya pembangunan sekolah, pemilik rumah itu menjual rumahnya kepada Pemda. Sejak saat itu, tak ada lagi yang menempatinya. Pihak Pemda berencana menjadikannya sebagai lapangan olahraga sekolah.

                Tetapi entah mengapa, rumah itu tidak dirobohkan, hanya diterpa angin dan hujan.
                Anak-anak menyebutnya sebagai “rumah terkutuk”. Mereka tak berani mendekat ke lapangan di sampingnya.

                Pada pertandingan olahraga, di halaman sekolah ditarik garis putih, dan berdasarkan tingkatan kelas, mereka dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu merah, putih, biru, dan kuning.
                Kelompok yang memunggungi rumah terkutuk ini selalu tertinggal, bahkan sangat sial.
                Seorang wartawan menanyakan hal ini kepada nenek-nenek disekitar situ.
                “Ya…., jauh sebelum saya lahir, dulu…. Sekali, wanita yang tinggal di rumah itu, menyiksa nenek mertuanya sampai mati. Tak diberi makan, di tengah musim dingin, disiramnya dengan air, dipukulnya dengan bambu…”
                “tengah malam, terdengar tangisan nenek itu, “tolong, tolong!” Saya pun pernah beberapa kali pernah mendengarnya.”
                Mereka menceritakannya sambil merengutkan alis sepertinya hal itu terjadi pada diri mereka sendiri.

                Saat pembangunan sekolah, dikerahkan mesin-mesin penghancur seperti bulldozer, untuk merobohkan rumah itu, tetapi mesin-mesin itu selalu rusak, pengemudinya terluka tanpa sebab, sehingga pengerjaan pun jadi terhenti.
                Hal seperti itu terjadi berulang-ulang.
                “Jika rumah itu dirobohkan, akan terjadi kutukan.”
                “Bisa kena dendam nenek yang dibunuh itu.”
                Mendengarnya, tak ada lagi yang berani meneruskan pekerjaannya.
                Akhirnya, petugas dari balai kota pun memutuskan, “Biarkan saja rumah itu roboh dengan sendirinya.”

                Sampai sekarang pun, jika kita lewat di sampingnya pada tengah malam saat hujan gerimis, terdengar suara tangis nenek itu, “tolong…,tolong…!”